LAPORAN
PRAKTIKUM
ELIKSIR PARACETAMOL
Diajukan
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Tugas Praktikum Teknologi Sediaan Liquid dan
Semi Solid

Disusun Oleh :
CANDRA
AYU ARISKA
P2.06.30.1.14.006
JURUSAN
DIII FARMASI
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
TASIKMALAYA
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Eliksir
adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap,
mengandung selain obat juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis
lainnya, zat pengawet, zat warna, dan zat pewangi, untuk digunakan sebagai obat
dalam. Sebagai pelarut utama digunakan etanol 90% yang dimaksudkan untuk
mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol dan
propilenglikol. Sebagai pengganti gula dapat ditambahkan sirup simpleks. Konsentrasi
alkohol yang terdapat dalam sediaan berdasarkan FDA :
·
Anak
<6 tahun maksimal 0,5%
·
Anak
6-12 tahun maksimal 5%
·
Anak
>12 tahun dan dewasa maksimal 10%
Dalam
RSP 2005 halaman 756, disebutkan bahwa eliksir termasuk kedalam golongan
larutan non-aqueous dengan kandungan alkohol bervariasi mulai dari 3-5% sampai
21-23%.
Tujuan
pembuatan sediaan eliksir :
1.
Mempertinggi
kelarutan zat berkhasiat
2.
Agar
homogenitas lebih terjamin
3.
Zat
berkhasiat lebih mudah terabsorbsi dalam keadaan terlarut
4.
Sediaan
berasa manis dan aroma lebih sedap
5.
Dapat
digunakan oleh orang yang sukar menelan obat seperti anak-anak dan orang tua
Hal-hal yang dianggap perlu dalam
pembuatan eliksir :
1.
Pertumbuhan
kristal yang disebabkan oleh perubahan suhu, keseragaman ukuran, dll.
2.
Ketercampuran
zat aktif dengan pelarut campur ataupun zat tambahan untuk menghindari
terjadinya pengendapan. Dasar pemilihan pelarut campur : toksisitas, kelarutan
konstanta dielektrik pelarut, ketercampuran bahan.
3.
Untuk
penambahan sirupus simpleks lebih dari 30% harus diperhatikan terjadinya cap
locking pada tutup botol sediaan. Karena itu perlu diberikan anti cap locking.
4.
Peningkat
rasa seperti pemanis perlu diberikan untuk meningkatkan penerimaan, ditambahkan
juga rasa dan warna yang sesuai.
5.
Untuk
sediaan oral, pemilihan zat aktif perlu memperhatikan pemerian.
6.
Pemanis
yang dapat digunakan : gula, sirupus simpleks, sorbitol, siklamat, aspartam.
7.
Karena
ada komponen air dalam sediaan maka perlu ditambahkan pengawet.
8.
Sediaan
eliksir yang baik harus mempunyai viskositas yang cukup untuk memudahkan penuangan.
Pelarut campur yang digunakan : etanol, propilenglikol, gliserol, sorbitol
Dosis dari Paracetamol atau
Acetaminophenum :
·
Dosis
lazim untuk anak dan bayi :
6-12
bulan : sekali 50 mg, sehari
200 mg
1-5
tahun : sekali 50-100 mg,
sehari 200-400 mg
5-10
tahun : sekali 100-200 mg,
sehari 400-800 mg
>10
tahun : sekali 250 mg, sehari
1 gram
·
Dosis
lazim untuk dewasa :
Sekali
500 mg, sehari 500 mg-2 gram
Efek
farmakologi :
Paracetamol
digunakan sebagai analgetik antipiretik . (British Farmakope 2009, hal 4548)
hakekatnya obat ini mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri tanpa
mempengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan,
kebanyakan zat ini berdaya antipiretis dan atau anti radang, oleh karena itu
tidak hanya digunakan sebagai antinyeri, melainkan juga pada demam ( Infeksi
virus / kuman, selesma, pilek ) dan peradangan seperti rema dan encok, obat ini
banyak diberikan dari nyeri ringan sampai sedang yang menyebabkan beraneka
ragam seperti nyeri kepala, gigi, otot atau sendi ( rema atau encok ), perut,
nyeri haid (dysmenorroe), nyeri akibat benturan atau kecelakaan (trauma), Untuk
kedua nyeri terakhir, NSAID lebih layak pada nyeri yang lebih berat seperti
pendarahan atau fraktur kerjanya kurang ampuh. ( OOP edisi VI, hal 314 )
B.
Permasalahan
farmasetika
a.
Preformulasi
zat aktif
Acetaminophenum
(Paracetamol) FI III 37
Struktur
kimia :

C8H9NO2
BM
151,16
Pemerian : hablur atau serbuka hablur
putih: tidak berbau: rasa pahit
Kelarutan : larut dalam 70 bagian air, dalam
7 bagian etanol (95%)P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P
dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlendung
dari cahaya
Suhu
lebur : 169
sampai 172
b.
Permasalahan
farmasetik
a.
Parasetamol
memiliki kelarutan yang rendah dalam air dan mudah terhidrolisis dalam air
b.
Parasetamol
memiliki rasa yang sedikit pahit sehingga memberikan ketidaknyamanan ketika
harus dikonsumsi secara oral
c.
Sediaan
yang multiple dose rentan terhadap kontaminasi mikroba saat pemakaian
d.
Larutan
parasetamol bersifat sangat cair atau encer sehingga mudah tumpah
BAB II
ISI
A.
Penyelesaian
masalah
a.
Parasetamol
dibuat dalam bentuk eliksir karena mudah terhidrolisis dalam air.
b.
Untuk
meningkatkan kenyamanan penggunaan, ditambahkan perasa berupa rasa melon dan
pewarna hijau.
c.
Untuk
menghindari aktivitas mikroba, digunakan pengawet berupa kombinasi
propilenglikol.
d.
Mengusulkan
umur pasien 11 tahun untuk memudahkan perhitungan Dosis Lazim
B.
Preformulasi
eksipien
1.
Glicerolum
(Gliserol) FI III 271

C2H8O3
BM
92,10
Pemerian : cairan seperti sirop : jernih,
tidak berwarna : tidak berbau : manis diikuti rasa hangat, higroskopik. Jika
disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur
tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20o.
Kelarutan : dapat campur dengan air, dan
dengan etanol (95%)P : praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan
dalam minyak lemak.
Indeks bias : antara 1,471 dan 1,474.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.
2.
Propilenglycolum
(Propilenglikol) FI III 534
Rumus
kimia :

BM
76,09
Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak
berwarna; tidak berbau; rasa agak manis:
higroskopik.
Kelarutan : dapat campur dengan air, dengan
etanol (95%) dan dengan kloroform P; larut dalam 6 bagian eter P : tidak dapat
campur dengan eter P : tidak dapat campur dengan eter minyak tanah P dan dengan
minyak lemak.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.
pH
larutan : 6,0 -8,0
Bobot
jenis : Antara 1,035 dan 1,037
3.
Sorbitolum
(Sorbitol) FI III 567
Struktur
kimia :

C6H14O6
BM
182,17
Pemerian : serbuk, butiran atau kepingan
putih: rasa manis: higroskopik.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air,
sukar larut dalam etanol (95%)P, dalam metanol P dan dalam asam asetat P.
Penyimpanan : dalam wadah tertututp rapat.
Suhu
lebur : hablur
antara 174
dan 179
4.
Aetholum
(FI III 65)
Pemerian : cairan tak berwarna, jernih,
mudah menguap dan mudah bergerak: bau khas: rasa panas. Mudah terbakar denagan
memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air,
dalam kloroform P dan dalam eter P.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung
dari cahaya : ditempat sejuk, jauh dari nyala api
5.
Aqua
Destillata (FI III 96)
Struktur
kimia : H2O
BM
18,02
Pemerian : cairan jernih; tidak berwarna;
tidak berbau; tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Zat
teroksidasi : didihkan 100 ml dengan
10 ml asam sulfat encer P dan 0,5 ml kalium permanganat 0,01 N, warna tidak
hilang
C.
Formula
lengkap
|
No
|
Nama bahan
|
Jumlah
|
Kegunaan
|
|
1
|
Parasetamol
|
120mg/5ml
|
Zat aktif/Analgetik
|
|
2
|
Gliserol
|
2,5 ml
|
Wetting agent
|
|
3
|
Propilenglikol
|
500 µl
|
Antimikroba
|
|
4
|
Sorbitol solution 70%
|
1.25 ml
|
Pemanis
|
|
5
|
Etanol
|
500 µl
|
Pelarut
|
|
6
|
Perasa (Melon)
|
q.s
|
Pemanis
|
|
7
|
Pewarna (Hijau)
|
q.s
|
Pewarna
|
|
8
|
Aqua Destillata
|
Ad 60 ml
|
Pelarut
|
D.
Perhitungan
·
Perhitungan
dosis
a.
Dosis lazim untuk anak dan bayi :
FI
III : >10 tahun sekali 250 mg,
sehari 1 gram
Sekali : 11/20 x 250 mg = 137,5 mg
Sehari : 11/20 x 1 gram = 0,55 gram
R/ sekali : 250 mg
Sehari : 250 mg x 3 =
750 mg
b.
Dosis
lazim untuk dewasa :
FI
III : Sekali 500 mg, sehari 500 mg-2
gram
Sekali : 11/20 x 500 mg = 275 mg
Sehari : 11/20 x 500 mg-2000 mg = 275 mg-1100 mg
R/ sekali : 250 mg
Sehari : 250 mg x 3 =
750 mg
·
Perhitungan
bahan
1.
Parasetamol : 60 ml/5 ml x 120 mg = 1440 mg
2.
Gliserol : 60 ml/5 ml x 2,5 ml = 30
ml
3.
Propilenglikol :
60 ml/5 ml x 500 µl = 6000 µl = 6 ml
4.
Sorbitol
70% : 60 ml/5 ml x 1,25 ml =
15 ml
5.
Etanol : 60 ml/5 ml x 500 µl = 6000 µl = 6 ml
6.
Pewarna(Hijau) : q.s (secukupnya)
7.
Perasa(Melon) :
q.s (secukupnya)
8.
Aqua
Destillata : hingga 60 ml
E.
Penimbangan
1.
Parasetamol : 1440 mg
2.
Gliserol : 30 ml
3.
Propilenglikol :
6000 µl = 6 ml
4.
Sorbitol
70% : 15 ml
5.
Etanol : 6000 µl = 6 ml
6.
Pewarna(Hijau) :
q.s (secukupnya)
7.
Perasa(Melon) :
q.s (secukupnya)
8.
Aqua
Destillata : hingga 60 ml
F.
Prosedur
kerja :
1.
Siapkan
alat dan bahan
2.
Ditara
botol 60 ml, tandai
3.
Setarakan
timbangan
4.
Ditimbang
dan diukur semua bahan
5.
Dimasukkan
parasetamol kedalam beaker glass, ditambahkan gliserol sedikit demi sedikit,
aduk hingga larut
6.
Ditambahkan
etanol, aduk hingga larut
7.
Ditambahkan
propilenglikol, aduk hingga larut
8.
Ditambahkan
sorbitil, aduk hingga larut
9.
Dimasukkan
pewarna (Hijau) dan perasa (Melon) yang sebelumnya dilarutkan menggunakan
aquadest, aduk homogen
10. Dimasukkan kedalam botol obat
yang sudah ditandai 60 ml, ditambahkan aquadest hingga tanda 60 ml
G.
Evaluasi
Sediaan
|
No
|
Evaluasi
|
Hasil
|
|
1
|
Organoleptik (bau, rasa, warna)
|
Bau : buah melon
Rasa : manis
Warna : hijau
|
|
2
|
pH
|
6,8
|
|
3
|
Volume terpindahkan
|
60 ml
|
|
4
|
Laju air
|
11,83 sekon
|
H.
Hasil
pengamatan
|
Pengamatan
|
Jumat
|
Sabtu
|
Minggu
|
Senin
|
Selasa
|
Rabu
|
|
Pertumbuhan mikroorganisme
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
|
Pengkristalan pada leher botol
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
|
Warna
|
Hijau
|
Hijau
|
Hijau
|
Hijau
|
Hijau
|
Hijau
|
|
Bau
|
Melon
|
Melon
|
Melon
|
Melon
|
Melon
|
Melon
|
|
Rasa
|
Manis
|
Manis
|
Manis
|
Manis
|
Manis
|
Manis
|
I.
Pembahasan
Sedaiaan Paracetamol yang akan dibuat adalah larutan
berupa eliksir oral. Dibuat dan digunakan karena efek tertentu dari zat obat
yang ada. Dalam sediaan ini zat obat umumnya diharapkan memberikan efek
sistematik. Obat diberikan dalam bentuk larutan bertujuan agar absorbsinya
dalam sistem saluran cerna ke dalam sirkulasi sistematik dapat diharapkan
terjadi lebih cepat daripada dalam bentuk sediaan padat dari zat obat yang
lain. Sediaan larutan berupa eliksir hanya mengandung zat obat tunggal, bahwa
dosis yang diperlukan dapat dinaikkan atau diturunkan dengan meminum eliksir
lebih banyak atau kurang, bila dua atau lebih zat obat ada dalam sediaan yang
sama, tidak mungkin dapat meningkatkan atau menurunkan kadar satu zat obat yang
diminum secara otomatis dan bersamaan mengatur dosis obat lain yang ada.
Eliksir merupakan larutan dengan etanol sebagai
pelarut utama. Etanol sebagai pelarut utama dimaksudkan untuk mempertinggi
kelarutan obat. Eliksir bersifat hidroalkohol, maka dapat menjaga stabilitas
obat baik yang larut dalam air maupun alkohol.
Bahan yang larut dalam air dilarutkan terpisah dengan
zat yang larut dalam pelarut alkohol. Larutan air ditambahkan kedalam larutan alkohol agar penurunan
kekuatan alkohol dalam larutan secara gradien mencegah terjadinya pemisahan
atau endapan. Terdapatnya gliserin, sirup, sorbitol dan propilenglikol dalam
eliksir memberikan kontribusi pada kestabilan zat terlarut dan dapat
meningkatkan viskositasnya.
Adapun formula dari eliksir
parsetamol adalah parasetamol sendiri sebagai zat aktif/analgetik antipiretik,
Gliserol sebagai wetting agent (pembasah), Propilenglikol sebagai antimikroba,
Sorbitol solution 70% sebagai pemanis, Ethanol sebagai pelarut, zat tambahan
terdiri dari zat pewarna (Hijau) serta perasa (Melon) dan Aqua destillata
sebagai pelarut.
Parasetamol
atau Acetaminophenum (zat aktif) memiliki rasa yang pahit dan tidak berbau
seperti yang tertera pada monografi “Pemerian
hablur atau serbuk hablur putih: tidak berbau: rasa pahit” maka diperlukan corigens saporis
atau pemanis seperti yang digunakan dalam formula ini yaitu Sorbitol solution
70%. Sorbitol solution 70% selain berfungsi sebagai pemanis juga dapat
digunakan untuk perangkat antikaplocking. Selain pemanis kita bisa tambahkan
corigen saporis lainnya seperti zat tambahan perasa (rasa melon). Biasanya zat
tambahan perasa rasa melon lebih disukai oleh anak-anak atau orang yang susah
minum obat.
Sediaan
formula Parasetamol merupakan sediaan multidose sehingga diperlukan pengawet.
Sediaan multidose yaitu sediaan yang bisa dipakai atau digunakan berulang kali.
Pengawet yang digunakan yaitu Propilenglikol. Propilenglikol merupakan pengawet
yang efektif, stabil dan tidak toksik.
Zat-zat lain
yang digunakan yaitu sebagai zat pembantu atau penunjang zat yang lain misalnya
Sorbitol solution 70% sebagai wetting agent atau pembasah dan Aqua destillata
sebagai pelarut sirup
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan,
maka dapat disimpulkan bahwa:
1.
Pembuatan
sediaan larutan berupa eliksir terdapat kelebihan dan kekurangan. Diharapkan
agar dapat mempertahankan kelebihannya, dan mengatasi kekurangan tersebut
dengan membuatnya lebih baik lagi
2.
Bentuk sediaan
eliksir yang dibuat adalah berwarna hijau dan beraroma melon
3.
Eliksir tidak terjadi pertumbuhan mikroba dan
pengkristalan pada leher botol
DAFTAR PUSTAKA
Howard,
Ansel, C.1989.Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi.Jakarta:Penerbit
Universitas
Indonesia
Kasim, Fauzi, M.Kes, Apt.2010.Informasi Spesialite Obat.Jakarta:PT
ISFI
Penerbitan
Jakarta
Rowe,
Raymond C, dkk.2009.Handbook of Pharmaceutical
Excipients.USA: RPS
Publishing
Sirait,
Midian, dkk.1979.Farmakope Indonesia
Edisi Ketiga.Jakarta:Departemen
Kesehatan
Republik Indonesia
Soesilo,
Slamet, dkk.1995.Farmakope Indonesia
Edisi Keempat.Jakarta:
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia
Zubaidah.2011.Ilmu Resep Untuk Sekolah Menengah Kejuruan
Farmasi.
Jakarta:P2B
SMF-SMKF
Jackpot city, casino, poker room, spa, gambling rooms - Dr.D.
BalasHapusWelcome to Dr. 성남 출장안마 D. Casino 이천 출장안마 and Dr.D. It is the 용인 출장샵 largest Casino in the 파주 출장마사지 world with all the slots and table games you could possibly wish for, from your 용인 출장샵